Monday, May 29, 2017

Tugas Resume “Ilmu Komunikasi Islam”
BAB VII
PRINSIP-PRINSIP DASAR ILMU KOMUNIKASI ISLAM

A.    Prinsip-Prinsip Komunikasi Islam
1.     Prinsip Ikhlas
Secara Bahasa, ikhlas berasal dari kata khalasha yang artinya suci, bersih dari noda. Adapun ikhlas menurut istilah artinya adalah kerja yang dilakukan oleh hati untuk menyucikan dirinya dari berbagai motif yang tidak benar. Tidak ikhlas menyampaikan atau menerima pesan artinya tidak sucinya keinginan untuk menyampaikan atau menerima pesan.
Prinsip ikhlas ini adalah prinsip paling mendasar dalam komunikasi Islam. Kehilangan komunikasi ini dari komunikator maupun komunikan akan membuat tujuan utama komunikasi yaitu ibadah menjadi hilang dan kekuatan pesan yang disampaikan memudar. Kehilangan prinsip ini dari salah satu pihak akan membuat proses komunikasi terhambat apalagi bertemu antara ketidakikhlasan komunikator dengan komunikan.
Selain factor penerima pesan, kekuatan pesan juga dipengaruhi oleh keikhlasan pengirim pesan. Pesan yang baik yang disampaikan oleh orang yang tidak ikhlas tidak memiliki pengaruh pada penerimanya.

Menakar Keikhlasan
Ikhlas tempatnya adalah hati. Karena tempatnya di hati, maka kita tidak mungkin mengukur tingkat keikhlasan yang tempatnya di hati. Namun, keikhlasan itu ada jejaknya, apa yang ada di dalam hati akan terungkap lewat anggota tubuh. Ketika telinga mendengar berita duka, hati ikut bersedih, dan ketgika hati bersedih mata pun bereaksi dengan mengeluarkan air mata.
Berdasarkan fakta di atas, keikhlasan dan ketidakikhlasan hati bisa diukur dengan keinginanan atau keengganan untuk mendengar pesan dari orang lain Allah berfirman:
Hanya orang-orang yang mendengar sajalah yang mematuhi (seruan Allah), dan orang-orang yang mati, kelak akan dibangkitkan oleh Allah, kemudia kepada-Nya mereka dikembalikan”.
Selain menyerap pesan, keikhlasan akan berdampak kepada kesungguhan untuk menyaring pesan serta mengambil pesan yang paling berkualitas. Kemampuan menyaring pesan dan mengambil yang terbaik disebutkan dalam firman Allah surah Az-Zumar (39): 17-18:
Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita  gembira, sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengar perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”.
Dalam ayat di atas disebutkan bahwa keinginan yang serius untuk menyaring informasi dan menerapkan pesan yang paling baik adalah ciri orang yang berakal yang mendapatkan petunjuk dari Allah SWT.
Berdasarkan dalil-dalil di atas disimpulkan bahwa ikhlas dalam komunikasi adalah pilar utama untuk mendapatkan komunikasi yang berkualitas, mendapatkan pahala, selektif dan produktif.

2.     Prinsip Pahala dan Dosa
Prinsip ini menjelaskan bahwa setiap pesan atau pernyataan yang keluar itu mengandung konsekuensi pahala atau dosa. Lisan memiliki peran kunci dalam berkomunikasi, apakah membawa kita kepada kesuksesan atau kehancuran.
Agar lisan tidak menjadi alat pengumpul dosa tetapi selalu memproduksi pahala, maka Islam membimbing manusia terutama umatnya untuk melakukan langkah-langkah berikut:
a.      Islam Melarang Berkata Kotor dan Kasar
Kata kotor yang diucapkan lisan adalah cerminan dari jiwa yang kotor. Adapun jiwa ynag bersih berdampak pada ucapan dan tingkah laku sehari-harinya. Untuk mendidik umat Islam agar selalu berkata baik, Allah menjadikan kemampuan menjaga diri untuk tidak berkata kotor sebagai indicator keberhasilan dalam menunaikan ibadah haji.
Rasulullah SAW merupakan sosok pribadi yang selalu menjaga kata dan tidak pernah mengeluarkan kata-kata yang jorok.
Pesan kotor dalam tataran aplikasi sangat banyak ditemukan, bisa dalam bentuk obrolan jorok, tampilan porno, cerita kotor, lagu yang mengumbar nafsu, tulisan jorok, dan sebagainya.
Berdasarkan prinsip ini, maka berlaku kaidah bahwa semakin banyak pesan kotor yang terakses, maka semakin besar juga dosa yang ditanggung oleh orang yang menyebarkan dan menerima pesan kotor seperti itu.
b.     Memberikan Motivasi Agar Selalu Berkata yang Baik
Rasulullah memberikan motivasi kepada orang yang berkata baik dengan berbagai cara, di antaranya:
-        Menyampaikan kabar gembira kepada orang yang selalu berkata baik dan mewanti-wanti orang yang sembarangan mengeluarkan pernyataan.
-        Berkata yang baik menyebabkan masuk surga dan mendapatkan tempat yang baik disana.
-        Berkata baik dikategorikan memberi sedekah atau pengganti pemberi sedekah.
-        Islam identic dengan ucapan yang baik.

3.     Prinsip Kejujuran
Lisan bisa membunuh karakter seseorang, bisa merusak hubungan suami istri, kaum kerabat, bahkan bisa menyebabkan pertumpahan darah. Gara-gara fitnah yang dilancarkan oleh orang munafik di Madinah, Aisyah istri Rasulullah tercemar nama baiknya dan kehabisan air mata untuk mengungkapkan rasa kesedihannya. Itulah yang terjadi pada Aisyah pada peristiwa Hadis Al-Ifki.
Gara-gara lisan, suatu komunitas bisa hancur berantakan. Karena itu, kejujuran dalam menyampaikan pesan adalah prinsip mendasar dalam komuniksi Islam. Tidak tegaknya prinsip ini akan berakibat fatal buat kehidupan manusia.
Di antara bentuk kejujuran dalam berkomunikasi adalah:
a.      Tidak memutarbalikan fakta
Memutarbalikan fakta adalah fitnah yang membuat keruh suasana dan menimbulkan ketidakharmonisan hubungan. Bukan sekadar itu, akan terjadi suatu waktu, orang yang baik disulap menjadi penghianat, dan penghianat dipoles sedemikian rupa menjadi pahlawan. Selain itu, hubungan dengan kerabat semakin renggang dan komunikasi dengan tetangga tidak beres.
b.     Tidak berdusta
Dusta berarti memanipulasi informasi sehingga pesan tidak sampai sebagaimana mestinya. Dusta akan mengakibatkan informasi yang masuk kepada seseorang cacat. Akibat dari informasi yang keliru adalah persepsi yang tidak benar. Dari persepsi yang tidak benar akan membuat sikap seseorang terhadap sesuatu atau seseorang menjadi tidak benar.

4.     Prinsip Kebersihan
Islam sangat menekankan prinsip kebersihan dalam segala hal, termasuk dalam menyampaikan pesan. Pesan yang baik akan mendatangkan kenyamanan psikologis bagi yang menerimanya, sedangkan pesan-pesan sarkatis, jorok, berdarah-darah, pertengkaran, perselingkuhan, adu domba, gossip, umpatan, dan sejenisnnya akan berdampak pada keruhnya hati.
Prinsip kebersihan sangat kental dalam Al-Qur’an. Ketika mengungkapkan hubungan tentang suami istri, Al-Qur’an menggambarkannya dengan Bahasa indah, santun, dan penuh makna.
Seseorang yang mengungkapkan kata-kata yang baik akan membuat hatinya tenang. Itulah rahasia dari perintah Allah yang menganjurkan kita banyak mengucapkan zikir.
Ketenangan tersebut tidak hanya buat diri komunikator, tetapi juga berdampak baik kepada komunikan. Rasulullah mengajarkan tentang pentingnya membangun optimism orang yang sedang terbaring sakit dengan kata-kata yang memberikan semangat hidup.

5.     Berkata Positif
Pesan positif sangat berpengaruh bagi kebahagiaan seseorang dalam kondisi apa pun dia berada. Seorang komunikator yang sering mengirim pesan positif kepada komunikan akan menyimpan modal yang banyak untuk berbuat yang positif.

Motivasi adalah Pesan Positif
Menyampaikan pesan dengan nada optimis adalah langkah awal menuju kemenangan. Optimism yang dibangun oleh seseorang menyebabkannya bergairah untuk menggapainya. Nabi Muhammad selalu mendidik sahabatnya dengan Bahasa optimis.
Optimism juga adalah langkah awal melangkah menuju surge. Rasulullah mengatakan bahwa kalau seseorang berdoa meminta surge, jangan meminta surge yang sekadarnya, tapi mintalah surga yang paling mewah, yaitu Firdaus.
Dengan meminta Firdaus kita termotivasi untuk lebih bekerja keras agar usaha yang kita lakukan dianggap pantas untuk mewujudkan apa yang kita minta dan cita-citakan.

6.     Prinsip Paket (Hati, Lisan, dan Perbuatan)
Manusia adalah makhluk yag diciptakan Allah dalam satu paket lengkap. Ada unsur jiwa dan ada unsur raga. Gerak raga dalam konsep Islam dipengaruhi secara kuat oleh hati atau jiwa. Artinya, lisan akan berbicara yang baik manakala hatinya baik, dan lisan tidak akan mampu berbicara dengan baik dan lancer tanpa kendali dari jiwanya, yang diucapkannya akan terasa hambar.
Orang yang sedang sedih biasanya tidak tahan memendam kesedihannya. Biasanya kesedihan itu dia ungkapkan kepada orang yang dia anggap bisa berbagi. Dalam waktu bersamaan, kesedihan di hati itu diikuti oleh muka yang muram dan air mata yang meleleh. Inilah yang disebut paket.
Konsistensi antara hati, kata dan perbuatan adalah ciri manusia sukses. Allah tidak menyukai inkonsistensi. Tidak hanya Allah, manusia secara umum juga memandang bahwa inkonsistensi adalah cacat yang membuat nilai seseorang menjadi berkurang.
Inkonsistensi adalah ciri kemunafikan. Ciri utama kemunafikan ada empat:
-        Tidak amanah, yaitu ketidaksesuian antara sumpah yang diucapkan dengan realisasi lapangan.
-     Suka berbohong, tidak sesuai antara isi yang terkandung di dalam hati dengan apa yang diucapkan oleh lisan.
-        Ingkar janji, yaitu ketidaksesuaian antara janji yang diucapkan dengan realitas di lapangan.
-       Tidak sportif, ketika terjadi perselisihan berusaha untuk mendzalimi pihak yang tidak sepakat dengan sikapnya.
Jika keempat ciri inkonsistensi ini ada pada diri seseorang, maka dia mendapat gelar munafik tulen. Rasulullah SAW bersabda:
Empat perkara, jika berkumpul pada diri seseorang, dia akan menjadi munafik tulen. Apabila melekat padanya satu sifat, maka ciri kemunafikan melekat pada dirinya sampai dia meninggalkannya, apabila diberi amanah dia berkhianat, apabila dia berbiicara dia berbohong, apabila berjanji dia ingkar, dan apabila berselisih dia semena-mena.

7.     Prinsip Dua Telinga Satu Mulut
Menceritakan kembali semua yang didengar adalah tanda kecerobohan seseorang. Tidak semua informasi yang disampai kepada seseorang dipahami secara benar, atau dipahami secara benar tetapi beritanya tidak benar, atau beritanya benar tetapi tidak layak dikonsumsi oleh public. Menceritakan kembali semua yang didengar akan berisiko memiliki tingkat kesalahan yang banyak. Di dalam istilah agama disebut dengan dosa (itsm).
Isyarat agar kita berhati-hati dalam berbicara dan banyak mendengar adalah pada struktur fisik kita yag diciptakan dengan dua telingan dan satu mulut. Setelah informasi yang ditangkap oleh telinga, informasi tersebut disaring oleh perangkat akal dan sebelum dikeluarkan oleh lisan melalui mulut, lisan kita dikawal oleh gigi-gigi kita yang jumlahnya 32.
Orang yang cerdas adalah orang yang mampu memilah-milah informasi dan hanya mengambil yang terbaik dari informasi yang diterima.

8.     Prinsip Pengawasan
Prinsip pengawasan muncul dari kepercayaan mukmin yang meyakini bahwa Allah Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Maha Mengetahui. Selain itu, mereka juga meyakini bahwa setiap kata yang diucapkan akan dicatat oleh malaikat pencatat.
Prinsip pengawasan ini akan membuat orang selalu merasa diperhatikan dan dipantau. Orangn yang selalu merasa dipantau biasanya lebih berhati-hati dalam mengeluarkan statemen.

9.     Prinsip Selektivitas dan Validitas
Berbicara dengan data dan informasi akurat adalah salah satu ciri pribadi berkualitas. Selain menambah kredibilitas, informasi yang akurat menghindarkan kita jatuh kepada kesalahan yang berujung kepada penyesalan. Allah berfirman QS. Al-Hujurat (49): 6:
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan itu
Prinsip selektivitas dan validitas dalam komunikasi Islam bukan hanya bertujuan untuk memberikan kepuasan bagi komunikan di dunia ini, tetapi tujuan utama mereka adalah agar bisa mempertanggungjawabkan apa yang mereka kemukakan pada saat diminta pertanggungjawabannya di akhirat.

10.  Prinsip Saling Memengaruhi
Komunikasi antarmanusia merupakan aktivitas menyampaikan dan menerima pesan dari dan kepada orang lain. Saat berlangsung komunikasi, proses pengaruh memengaruhi terjadi. Di samping itu, komunikasi juga bertujuan untuk saling mengenal, berhubungan, bermain, saling membantu, berbagi informasi, mengembangkan gagasan, memecahkan masalah, meningkatkan produktivitas, membangkitkan semangat kerja, meyakinkan, menghibur, mengukuhkan status, membius dan menciptakan rasa persatuan.
Karena muara semua tujuan komunikasi adalah saling memengaruhi, maka membangun komunikasi yang bertujuan untuk menciptakan suasana yang sehat adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Islam. Pengaruh pesan tersebut tidak hanya sesaat, tetapi kadang-kadang kekal sepanjang hidup komunikan.
Di antara bentuk pengaruh strategi komunikasi adalah:
a.      Dapat Mengubah Pendapat Orang Lain
Mengubah pandangan orang lain bukanlah pekerjaan yang mudah, tetapi dengan terjadinya proses tukar-menukar pendapat, hal tersebut akan dilakukan. Di antara kekuatan bahasa atau pesan itu adalah kemampuannya ‘membius’ lawan bicara.
Jika pesan yang disampaikan membuat orang tertarik menerima pesan yang keliru, maka dia menjadi tercela.
Tetapi, jika dia mampu menarik perhatian orang dengan tujuan menunjukkan jalan hidayah dan orang mendapatkan hidayah lewat perantaranya, maka perbuatan tersebut sangat terpuji.
Agar pesan yang dikirim memiliki pengaruh kuat, sebaiknya diungkapkan dengan fasih, teratur, memiliki jeda, dan diulang-ulang. Dan, andaikan seseorang menghendaki pesan itu menembus relung hati, maka saat menyampaikannya dia direkomendasikan untuk memiliki kelapangan hati.
b.     Menjadi Faktor yang Menentukan Baik Buruknya Manusia
Saat berinteraksi manusia hanya dihadapkan pada dua pilihan, memengaruhi atau dipengaruhi. Untuk menghindari pengaruh negatif, sebaiknya kita tiak bermesraan dengan orang-orang yang dapat merusak perilaku kita. Rasulullah mengingatkan kita tentang hubungan erat antara kebaikan atau kejahatan dengan hubungan komunikasi yang kita bangun.

11.  Prinsip Keseimbangan Berita (Keadilan)
Informasi yang seimbang akan membuat keputusan menjadi akurat. Prinsip perimbangan dalam menyerap informasi sebelum memberikan sikap adalah keharusan. Dengan prinsip ini, informasi yang kita terima akan lebih akurat, karena pihak yang sedang berselisih kadang-kadang memberikan informasi secara emosional dan kadang-kadang berlebihan.
Dalam menulis berita dikenal juga suatu istilah cover both side yang artinya perlakuan adil terhadap semua pihak yang menjadi objek berita atau disebut juga dengan pemberitaan yang berimbang. Kita harus menampilkan semua fakta dan sudut pandang yang relevan dari masalah yang diberitakan. Kita harus bersifat netral serta tidak memihak.

12.  Prinsip Privasi
Setiap orang memiliki ruang privasi yang tidak boleh diungkap di pentas public, begitu juga dengan organisasi, lembaga, dam seterusnya. Membocorkan rahasia sama dengan menelanjangi orang, organisasi, dan lembaga dan membuat mereka malu. Allah melarang orang-orang beriman untuk mencari-cari informasi tentang masalah yang masuk dalam ruang privasi.
Di antara indicator sebuah informasi tidak untuk di konsumsi public adalah bahasa tubuh dari orang yang menyampaikan pesan. Jika dia tidak mau menyampaikannya di depan forum, kemudian jika dia menyampaikan dia terlihat menoleh ke kanan dan ke kiri.
Di antara masalah yang termasuk dalam ruang privasi adalah masalah hubungan suami istri. Rahasia yang terjadi di kamar tidur tidak boleh dibocorkan oleh siapapun, meskipun yang menceritakan itu adalah suami atau istri.
Di antara masalah yang tidak boleh dibuka di depan umum adalah masalah keretakan rumah tangga. Islam mengarahkan kaum muslimin agar menyelesaikan masalah yang terjadi dengan melibatkan pihak yang sangat terbatas.
Melanggar masalah privasi seperti ini di dalam Islam masuk dalam status pelanggaran hak-hak asasi manusia, yaitu melakukan pencemaran nama baik.


Judul Buku                 : Komunikasi Islam
Penulis                       : Dr. Harjani Hefni, Lc, MA
Penerbit                      : Prenadamedia Group
                                      Cetakan I, September 2015
Penulis Resume          : Fitri Lestari
                                      Mahasiswa IAIN Pontianak
                                      Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah
                                      Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam
                                      Semester II, Kelas B
Tugas Resume “Ilmu Komunikasi Islam”
BAB VI
BENTUK-BENTUK KOMUNIKASI ISLAM

A.    Bentuk-Bentuk Komunikasi Islam
1.     Komunikasi Ilahiah
Di antara bentuk komunikasi dalam Islam adalah komunikasi antara manusia dengan Tuhannya. Bentuk komunikasi ini bersifat alami dan wujud dari adanya roh kehidupan yang dititipkan Allah kepada makhluk-Nya.
Komunikasi antara manusia dan Penciptanya sudah terjadi sejak Allah meniupkan ruh-Nya kepada manusia. Sejak itulah kehidupan bermula, dan sejak itu juga komunikasi sudah terjalin. Pada komunikasi awal itu Allah mengenalkan diri-Nya kepada manusia dan meminta mereka untuk bersaksi bahwa Dia (Allah) adalah Tuhan mereka. Menurut Al-Qur’an, semua manusia dalam kandungan bersaksi dan mengakui bahwa Allah adalah Tuhan mereka. Informasi ini disebutkan dalam Al-Qur’an surah Al-A’raf: (7) 172 Allah SWT berfirman:
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “ Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”

2.     Pola Komunikasi Manusia Dan Penciptanya
      a.   Pola Komunikasi dengan Manusia Pilihan
1)     Komunikasi Langsung
Komunikasi Allah dengan manusia secara langsung pernah terjadi pada Nabi Musa a.s. Adapun dengan Nabi yang lain, Allah komunikasi mereka dengan wahyu, baik yang disampaikan ke dalam hati mereka tanpa perantara malaikat atau dengan perantara malaikat. Itulah sebabnya Musa diberi gelar Kalimullah (orang yang bisa berkomunikasi langsung dengan Allah SWT).
Komunikasi langsung antara Musa dan Penciptanya pertama kali terjadi ketika Musa menerima wahyu pertama di Bukit Thursuna. Nabi Muhammad SAW sendiri pernah berkomunikasi langsung dengan Allah di Sidratul Muntaha saat dipanggil untuk menerima perintah shalat.
Bentuk komunikasi seperti di atas tidak terjadi lagi pada manusia biasa, meskipun pintu komunikasi dengan Allah tetap di buka dengan cara dan media yang lain.
2)     Komunikasi dengan Wahyu
Komunikasi melalui wahyu merupakan jenis komunikasi yang paling lazim terjadi pada semua Nabi. Di antara bentuk komunikasi jenis ini terjadi pada Nabi Ibrahim ketika dia meminta kepada Allah agar membuktikan kekuasaan-Nya dalam menghidupkan kembali makhluk yang telah meninggal dunia. Allah bertanya kepada Ibrahim tentag sebab permintaannya, apakah dia termasuk orang yang tidak percaya bahwa Allah mampu melakukan hal itu. Ternyata Ibrahim bukan tidak beriman, tetapi dia ingin lebih memantapkan hatinya dan membuatnya tenang.
Di antara komunikasi jenis ini yang dicata dalam Al-Qur’an adalah komunikasi antara Nabi Zakaria dengan Penciptanya. Nabi Zakaria menyampaikan keinginannya kepada Penciptanya supaya dikaruniai seorang anak yang akan melanjutkan perjuangannya. Permintaan Nabi Zakaria dikabulkan Allah dengan menganugerahkan kepadanya seorang anak yang diberinya nama Yahya, sebuah nama khas yang belum pernah ada sebelum itu. Nabi Zakaria membangun komunikasi dengan Allah dengan cara yang begitu santun. Beliau sampaikan keinginannya dengan suara yang lembut, beliau ungkap kondisi beliau apa adanya, dan beliau nyatakan bahwa Penciptanya tidak pernah membuatnya kecewa.
Komunikasi jenis ini juga terjadi antara Nabi Isa dengan Penciptanya. Al-Qur’an merekam komunikasi ini dalam surah Al-Maidah ayat 116-118. Tema besar komunikasi itu adalah tentang ketuhanan Yesus dan Bunda Maria, apakah ajaran itu bersumber dari Isa atau bukan. Al-Qur’an menyatakan bahwa Isa menolak bahwa ajaran itu bersumber darinya.
Pola komunikasi dengan perantara wahyu berhenti dengan diutusnya Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir yang di utus ke muka bumi. Selanjutnya komunikasi antara manusia dengan Penciptanya dibangun lewat media sholat. Zikir, membaca Al-Qur’an, berdoa, istigfar. Dan tobat kepada Allah SWT.

3.     Pola Komunikasi dengan Manusia Biasa
Setelah manusia lahir ke dunia, Allah sudah menyiapkan berbagai media yang memungkinkan mereka untuk tetap bersambung dengan Allah SWT. Di antara media terpentinng yang Allah persiapkan buat manusia untuk berkomunikasi adalah:
a.      Shalat
Secara lahiriah shalat berkaitan dengan pekerjaan badan seperti berdiri, duduk, ruku’, serta semua perkataan dan perbuatan. Selain gerakan, aktivitas shalat berkaitan dengan hati, yaitu dengan mengagungkan Allah, membesarkan-Nya, bersikap merendah dan patuh kepada Allah.
Shalat adalah ajaran Islam yang mengajarkan kepada penganutnya untuk berkomunikasi secara intensif dengan Allah. Allah memerintahkan kepada makhluk-Nya untuk berkomunikasi dengan-Nya lewat media shalat minimal lima klai sehari pada waktu-waktu yang sudah ditentukan. Lima waktu itu adalah Subuh, Dzuhur, Ashar, Magrib, dan Isya. Selain shalat wajib lima waktu, Allah juga menyediakan waktu untuk kita berkomunikasi dengan-Nya setiap saat, kapan saja kita ingin berkomunikasi, seperti shalat Syuruq, Dhuha, Rawatib, Shalat Sunnah Wudhu’, shalat Malam, shalat Tasbih, shalat Hajat, shalat Gerhana Matahari dan Bulan.
Agar komunikasi berlangsung dengan baik, orang yang sedang melaksakan shalat diperintahkan untuk khusyuk. Khusyuk dalam shalat, yaitu menghadirkan kebesaran Allah yang sedang kita ajak komunikasi, dan merasa takut ditolak, sehingga dia fokuskan hatinya untuk bermunajat dan tidak menyibukkan diri dengan yang lain.
b.     Zikir
Zikir secara Bahasa adalah mengingat sesuatu dengan cara diucapkan dengan lisan atau dihadirkan di dalam hati. Secara istilah, zikir adalah segala sesuatu yang diucapkan oleh lisan dan yang dipersepsi oleh hati dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, baik mempelajari ilmu dan mengajarkannya, mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran.
Zikir adalah salah satu bentuk komunikasi manusia kepada Allah, dengan cara menghadirkan-Nya dalam hati, menyebut-Nya dengan lisan, mempelajari dan mengajarkan ajaran-Nya, mengajak orang lain untuk melakukan apa yang diperintahkan-Nya, dan mencegah orang dari hal-hal yang dilarang oleh-Nya.
Zikir adalah cara cerdas manusia untuk selalu berkomunikasi dengan pencipta-Nya tanpa harus menunggu waktu khusus. Dalam keadaan berdiri, duduk, bahkan berbaring seorang manusia cerdas bisa berkomunikasi dengan Allah.
Tujuh puluh tiga manfaat zikir menurut Ibnu al-Qoyyim adalah:
1.     Mengusir setan, mengekang, dan menjadikannya kecewa.
2.     Mambuat Allah ridha.
3.     Menghilangkan rasa sedih dan gelisah dari hati manusia.
4.     Membahagiakan dan melapangkan hati.
5.     Menguatkan hati dan badan.
6.     Menyinari wajah dan hati.
7.     Membuka lahan rezeki.
8.     Menghiasi orang yang berzikir dengan pakaian kewibawaan, disenangi, dan dicintai manusia.
9.     Melahirkan kecintaan.
10.  Mengangkat manusia ke maqam ihsan.
11.  Melahirkan inabah, ingin kembali kepada Allah.
12.  Orang yang berzikir dekat dengan Allah.
13.  Pembuka semua pintu ilmu.
14.  Membantu seseorang merasakan kebesaran Allah.
15.  Menjadikan seorang hamba disebut di sisi Allah.
16.  Menghidupkan hati.
17.  Menjadi makanan hati dan ruh.
18.  Membersihkan hati dari kotoran.
19.  Membersihkan dosa.
20.  Membuat jiwa dekat dengan Allah.
21.  Menolong hamba saat kesempitan.
22.  Suara orang yang berzikir dikenal di langit tertinggi.
23.  Penyelamat dari azab Allah.
24.  Menghadirkan ketenangan.
25.  Menjaga lidah dari perkataan terlarang.
26.  Majelis zikir adalah mejelis malaikat.
27.  Mendapatkan berkah Allah di mana saja.
28.  Tidak akan merugi dan menyesal di hari kiamat.
29.  Berada di bawah naungan Allah di mana saja.
30.  Mendapat pemberian yang paling berharga.
31.  Zikir adalah ibadah yang paling afdhal.
32.  Zikir adalah bunga dan pohon surga.
33.  Mendapatkan kebaikan dan anugerah yang tak terhingga.
34.  Tidak akan lalai terhadap diri dan Allah pun tidak melalaikannya.
35.  Dalam zikir tersimpan kenikmatan surga dunia.
36.  Mendahului seorang hamba dalam segala situasi dan kondisi.
37.  Zikir adalah cahaya di dunia dan akhirat.
38.  Zikir sebagai pintu menuju Allah.
39.  Zikir merupakan sumber kekuatan kalbu dan kemuliaan jiwa.
40.  Zikir merupakan penyatu hati orang beriman dan pemecah hati musuh Allah.
41.  Mendekatkan kepada akhirat dan menjauhkan dari dunia.
42.  Menjadikan hati selalu tergjaga.
43.  Zikir adalah pohon makrifat dan pola hidup orang-orang saleh.
44.  Pahala berzikir sama dengan berinfak dan berjihad di jalan Allah.
45.  Zikir adalah pangkal kesyukuran.
46.  Mendekatkan jiwa seorang Allah kepada Allah.
47.  Melembutkan hati.
48.  Menjadi obat hati.
49.  Zikir menjadi modal dasar untuk mencintai Allah.
50.  Mendatangkan nikmat dan menolak bala.
51.  Allah dan malaikat-Nya mengucapkan shalawat kepada pezikir.
52.  Majelis zikir adalah taman surge.
53.  Allah membanggakan para pezikir kepada para malaikat.
54.  Orang yang berzikir masuk surge dalam keadaan tersennyum.
55.  Zikir adalah tujuan prioritas dari kewajiban beribadah.
56.  Semua kebaikan ada dalam zikir.
57.  Melanggengkan zikir dapat mengganti ibadah tathawwu.
58.  Zikir menolong untuk berbuat amat ketaatan.
59.  Menghilangkan rasa berat dan mempermudah yang susah.
60.  Menghilangkan rasa takut dan menimbulkan ketenangan jiwa.
61.  Memberikan kekuatan jasad.
62.  Menolak kefakiran.
63.  Pezikir merupakan orang yang pertama bertemu dengan Allah.
64.  Pezikir tidak akan dibangkitkan bersama para pendusta.
65.  Dengan zikir rumah-rumah surge dibangun, dan kebun-kebun surge ditanami tumbuhan zikir.
66.  Penghalang antara hamba dan jahanam.
67.  Malaikat memintakan ampun bagi orang yang berzikir.
68.  Pegunungan dan hamparan bumi bergembira dengan adanya orang yang berzikir.
69.  Membersikan sifat munafik.
70.  Memberikan kenikmatan tak tertandingi.
71.  Wajah pezikir paling cerah di dunia dan paling bersinar di akhirat.
72.  Zikir menambah saksi bagi seorang hamba di hari kiamat.
73.  Memalingkan seseorang dari membincangkan kebatilan.
c.      Istigfar dan Tobat
Istigfar menurut Bahasa artinya memohon ampunan dan meminta agar perkataan atau perbuatan buruk yang pernah dikerjakan bisa diperbaiki. Menurut definsi ini, istigfar merupakan upaya dari seseorang untuk mengoreksi dan mengakui kesalahan dirinya sebagai langkah awal untuk melakukan perbaikan.
Seorang manusia bisa melakukan istigfar jika dia mampu membaca dan meyadari kesalahan yang dia lakukan. Orang yang tidak mampu membaca kesalahan diri tidak akan sadar bahwa dirinya bersalah.
Setelah istigfar berhasil dilakukan, langkah selanjutnya yang harus di ambil adalah bertobat. Tobat menurut Bahasa berasal dari kata taba, yatubu, taubatan yang artinya kembali. Yang dimaksud dengan kembali dalam makna Bahasa itu adalah kembali ke jalan yang benar setelah melakukan kesalahan. Jadi, tobat adalah aksi nyata dari orang yang telah menyadari kesalahannya untuk melepas segala kesalahan dan kembali ke jalan yang benar.
Jadi istigfar dan tobat adalah komunikasi seorang hamba dengan Tuhannya untuk melepas segala beban yang ada di dalam dirinya dengan cara mengakui kesalahan dan berjanji untuk menggantikan kesalahan tersebut dengan perbuatan yang lebih baik.
d.     Tilawah Al-Qur’an
Al-Qur’an merupakan kitab yang diturunkan oleh Allah sebagai salah satu sarana untuk berkomunikasi dengan hamba-Nya. Terdapat banyak bentuk komunikasi di dalamnya antara lain:
1.     Komunikasi antara Allah dan malaikat.
2.     Komunikasi antara Allah dengan para Nabi dan Rasul.
3.     Komunikasi Allah dengan Iblis.
4.     Komunikasi Allah dengan manusia lewat perantaraan Rasul.
5.     Komunikasi Allah dengan manusia.
6.     Komunikasi manusia dengan makhluk lainnya.
7.     Komunikasi sesama manusia.

B.    Komunikasi Intrapersona
Semua kita, setiap hari bahkan setiap waktu melakukan komunikasi intrapesona. Dalam perjalanan dari rumah, saat naik angkot, busway, atau motor, menuju kampus, mata kita pasti banyak melihat objek dan telinga kita banyak mendapatkan stimuli atau rangsangan berupa suara-suara yang beragam. Pada saat yang hamper bersamaan, kita memberi makna terhadap apa yang kita lihat dan kita dengar, bahkan apa yang kita rsa, raba, atau cium. Dan, mungkin semua kita memberi makna yang berbeda terhadap apa yang kita indra tersebut.
Proses melihat dan mendengar objek, lalu memaknai apa yang diindra dan merekam apa yang kita persepsi berlangsung sangat cepat dalam diri kita. Proses itu semua terjadi dalam diri, dan proses ini disebut dengan komunikasi intrapersonal atau intrapribadi.
Komunikasi intrapribadi adalah komunikasi yang berlangsunng dalam diri seseorang. Dalam komuniksi bentuk ini, orang yang berperan sebagai komunikator sekaligus berperan sebagai komunikan. Dia berbicara kepada dirinya sendiri, dia berdialog dengan dirinya sendiri, dia bertanya kepada dirinya dan dijawab oleh dirinya sendiri.
Berdasarkan definisi di atas, maka komunikasi intrapersonal adalah proses komunikasi yang berlangsung dalam diri seseorang saat menerima informasi, mengolahnya, menyimpannya, dan menghasilkannya kembali.

C.    Komunikasi Antarmanusia
Komunikasi dengan sesama manusia minimal memiliki tiga bentuk: pertama, komunikasi antarpesona atau antar pribadi. Kedua, komunikasi kelompok. Ketiga, komunikasi massa.
Di dalam Islam, istilah komunikasi dengan sesame manusia disebut dengan hablun minannas, ta’aruf, dan muamalah.
1.     Komunikasi Antarpesona (Komunikasi Antarpribadi)
Ada yang menyebutnya komunikasi dua orang. Komunikasi dua orang atau antarpribadi ini dalam Islam menempati posisi yang sangat penting. Di antara bentuk komunikasi ini adalah komunikasi antara orang tua dengan anaknya, komunikasi antara suami dan istri, komunikasi dengan tetangga, komunikasi antara guru dan murid, komunikasi antara konselor dan kliennya, komunikasi antara dokter dan pasiennya, komunikasi seseorang dengan temannya, komunikasi dengan rekan sekantor, komunikasi antara atasan dan bawahannya, dan sebagainya.
Komunikasi antarpribadi didefinisikan dengan tiga pendekatan, berdasarkan komponen yang diartinya penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau sekelompok kecil orang, dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik segera.
Berdasarkan hubungan, komunikasi antarpribadi diartikan sebagai komunikasi yang berlangsung di antara dua orang yang mempunyai hubungan yang mantap dan jelas. Seperti hubungan antara orang tua dengan anak, penjual dengan pelanggan, dan sebagainya. Adapun berdasarkan pengembangan, komunikasi antarpribadi adalah akhir dari perkembangan komunikasi yang bersifat tak pribadi pada satu ekstrem yang lain.
Komunikasi antarpribadi memiliki delapan karakteristik:
-        Melibatkan paling sedikit dua orang.
-        Memiliki umpan balik atau feedback.
-        Tidak harus melalui tatap muka.
-        Tidak harus bertujuan.
-        Menghasilkan beberapa pengaruh atau effect.
-        Tidak harus dengan kata-kata.
-        Dipengaruhi oleh konteks.
-        Dipengaruhi oleh kegaduhan atau noise.
Komnikasi antarpribadi juga sangat penting karena masing-masing pihak bisa langsung melakukan koreksi dan menemukan yang terbaik setelah terjalin komunikasi yang intensif.
Dalam komunikasi dakwah, komunikasi antarpribadi dikenal dengan istilah dakwah fardiyah, meskipun dakwah fardiyah memiliki maksud khusus di dalam melakukan komunikasi yaitu ingin mengajak orang  ke jalan kebaikan.
2.     Komunikasi Kelompok
Komunikasi kelompok merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia sebagai makhluk social. Berkelompok adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Kita memiliki keluarga, kita juga adalah anggota dari suku tertentu, kita juga adalah bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat tempat tinggal kita, kita juga adalah anggota dari kumpulan orang di tempat kerja kita, dan kita biasanya memiliki kecenderungan baik ideology maupun hobi yang membuat kita perlu untuk berhimpun dalam sebuah perkumpulan tertentu.
Sebuah perkumpulan baru disebut kelompok jika memenuhi dua syarat: pertama, anggota-anggota kelompok merasa terikat dengan kelompok. Kedua, nasib anggota-anggota kelompok saling bergantung sehingga hasil setiap orang terkait dalam cara tertentu dengan hasil yang lain.
Hidup berkelompok dalam Islam disebut dengan hidup berjamaah. Di dalam Islam hidup berjamaah sangat dianjurkan bahkan terwujud dalam praktik beragama. Kaum muslimin sangat dianjurkan untuk melaksanakan shalat lima waktu secara berjamaah di masjid. Rasulullah menamakan shalat berjamaah dengan istilah sunan al-huda.
Selain dianjurkan shalat berjamaah, Rasulullah SAW juga memerintahkan umatnya untuk hidup berjamaah dalam menjalani kehidupan. Dengan hidup berjamaah, kehidupan seseorang lebih terjaga dari pengaruh syetan.
Meskipun hidup berkelompok terkadang tidak selalu mulus, kadang-kadang terjadi perbedaan pendapat, tapi Rasulullah tetap memuji orang yang debar hidup bersama jamaah dibandingkan orang yang hidup yang mengurung diri.
3.     Komunikasi Massa
Komunikasi massa sebagaimana dikatakan Bittner yang dikutip oleh Jalaluddin Rakhmat dalam Psikologi Komunikasi adalah “massage communicated through a mass medium to a large number of people” (pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang).
Gerbner, menyatakan, “mass communication is the technologically and institutionally based production and distribution of the most broadly shared continuous flow of messeges in industrial societies” (komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan kontinu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industry).
Empat tanda pokok komunikasi massa:
-        Bersifat tidak langsung, artinya harus melewati media teknis.
-        Bersifat satu arah, artinya tidak ada interaksi antara peserta-peserta komunikasi.
-        Bersifat terbuka, artinya ditujukan pada public yang tidak terbatas dan anonym.
-        Mempunyai public yang secara geografis tersebar.
Maka dapat diketahui bahwa komunikasi massa memiliki peran besar dalam menyampaikan pesan kepada masyarakat dalam skala luas, baik untuk sekedar menyampaikan informasi, atau untuk mendidik, menghibur, membimbing ataupun memengaruhi pemikiran mereka.

Dapat dipahami juga bahwa komunikasi massa adalah komunikasi yang menggunakan media yang bisa menjangkau massa dalam skala luas. Media yang bisa digunakan untuk komunikasi bentuk ini adalah surat kabar, majalah, film, radio, televise, dan internet.


Judul Buku                  : Komunikasi Islam
Penulis                         : Dr. Harjani Hefni, Lc, MA
Penerbit                      : Prenadamedia Group
                                      Cetakan I, September 2015
Penulis Resume          : Fitri Lestari
                                      Mahasiswa IAIN Pontianak
                                      Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah
                                      Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam
                                      Semester II, Kelas B