Monday, May 29, 2017

Tugas Resume “Ilmu Komunikasi Islam”
BAB VII
PRINSIP-PRINSIP DASAR ILMU KOMUNIKASI ISLAM

A.    Prinsip-Prinsip Komunikasi Islam
1.     Prinsip Ikhlas
Secara Bahasa, ikhlas berasal dari kata khalasha yang artinya suci, bersih dari noda. Adapun ikhlas menurut istilah artinya adalah kerja yang dilakukan oleh hati untuk menyucikan dirinya dari berbagai motif yang tidak benar. Tidak ikhlas menyampaikan atau menerima pesan artinya tidak sucinya keinginan untuk menyampaikan atau menerima pesan.
Prinsip ikhlas ini adalah prinsip paling mendasar dalam komunikasi Islam. Kehilangan komunikasi ini dari komunikator maupun komunikan akan membuat tujuan utama komunikasi yaitu ibadah menjadi hilang dan kekuatan pesan yang disampaikan memudar. Kehilangan prinsip ini dari salah satu pihak akan membuat proses komunikasi terhambat apalagi bertemu antara ketidakikhlasan komunikator dengan komunikan.
Selain factor penerima pesan, kekuatan pesan juga dipengaruhi oleh keikhlasan pengirim pesan. Pesan yang baik yang disampaikan oleh orang yang tidak ikhlas tidak memiliki pengaruh pada penerimanya.

Menakar Keikhlasan
Ikhlas tempatnya adalah hati. Karena tempatnya di hati, maka kita tidak mungkin mengukur tingkat keikhlasan yang tempatnya di hati. Namun, keikhlasan itu ada jejaknya, apa yang ada di dalam hati akan terungkap lewat anggota tubuh. Ketika telinga mendengar berita duka, hati ikut bersedih, dan ketgika hati bersedih mata pun bereaksi dengan mengeluarkan air mata.
Berdasarkan fakta di atas, keikhlasan dan ketidakikhlasan hati bisa diukur dengan keinginanan atau keengganan untuk mendengar pesan dari orang lain Allah berfirman:
Hanya orang-orang yang mendengar sajalah yang mematuhi (seruan Allah), dan orang-orang yang mati, kelak akan dibangkitkan oleh Allah, kemudia kepada-Nya mereka dikembalikan”.
Selain menyerap pesan, keikhlasan akan berdampak kepada kesungguhan untuk menyaring pesan serta mengambil pesan yang paling berkualitas. Kemampuan menyaring pesan dan mengambil yang terbaik disebutkan dalam firman Allah surah Az-Zumar (39): 17-18:
Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita  gembira, sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengar perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”.
Dalam ayat di atas disebutkan bahwa keinginan yang serius untuk menyaring informasi dan menerapkan pesan yang paling baik adalah ciri orang yang berakal yang mendapatkan petunjuk dari Allah SWT.
Berdasarkan dalil-dalil di atas disimpulkan bahwa ikhlas dalam komunikasi adalah pilar utama untuk mendapatkan komunikasi yang berkualitas, mendapatkan pahala, selektif dan produktif.

2.     Prinsip Pahala dan Dosa
Prinsip ini menjelaskan bahwa setiap pesan atau pernyataan yang keluar itu mengandung konsekuensi pahala atau dosa. Lisan memiliki peran kunci dalam berkomunikasi, apakah membawa kita kepada kesuksesan atau kehancuran.
Agar lisan tidak menjadi alat pengumpul dosa tetapi selalu memproduksi pahala, maka Islam membimbing manusia terutama umatnya untuk melakukan langkah-langkah berikut:
a.      Islam Melarang Berkata Kotor dan Kasar
Kata kotor yang diucapkan lisan adalah cerminan dari jiwa yang kotor. Adapun jiwa ynag bersih berdampak pada ucapan dan tingkah laku sehari-harinya. Untuk mendidik umat Islam agar selalu berkata baik, Allah menjadikan kemampuan menjaga diri untuk tidak berkata kotor sebagai indicator keberhasilan dalam menunaikan ibadah haji.
Rasulullah SAW merupakan sosok pribadi yang selalu menjaga kata dan tidak pernah mengeluarkan kata-kata yang jorok.
Pesan kotor dalam tataran aplikasi sangat banyak ditemukan, bisa dalam bentuk obrolan jorok, tampilan porno, cerita kotor, lagu yang mengumbar nafsu, tulisan jorok, dan sebagainya.
Berdasarkan prinsip ini, maka berlaku kaidah bahwa semakin banyak pesan kotor yang terakses, maka semakin besar juga dosa yang ditanggung oleh orang yang menyebarkan dan menerima pesan kotor seperti itu.
b.     Memberikan Motivasi Agar Selalu Berkata yang Baik
Rasulullah memberikan motivasi kepada orang yang berkata baik dengan berbagai cara, di antaranya:
-        Menyampaikan kabar gembira kepada orang yang selalu berkata baik dan mewanti-wanti orang yang sembarangan mengeluarkan pernyataan.
-        Berkata yang baik menyebabkan masuk surga dan mendapatkan tempat yang baik disana.
-        Berkata baik dikategorikan memberi sedekah atau pengganti pemberi sedekah.
-        Islam identic dengan ucapan yang baik.

3.     Prinsip Kejujuran
Lisan bisa membunuh karakter seseorang, bisa merusak hubungan suami istri, kaum kerabat, bahkan bisa menyebabkan pertumpahan darah. Gara-gara fitnah yang dilancarkan oleh orang munafik di Madinah, Aisyah istri Rasulullah tercemar nama baiknya dan kehabisan air mata untuk mengungkapkan rasa kesedihannya. Itulah yang terjadi pada Aisyah pada peristiwa Hadis Al-Ifki.
Gara-gara lisan, suatu komunitas bisa hancur berantakan. Karena itu, kejujuran dalam menyampaikan pesan adalah prinsip mendasar dalam komuniksi Islam. Tidak tegaknya prinsip ini akan berakibat fatal buat kehidupan manusia.
Di antara bentuk kejujuran dalam berkomunikasi adalah:
a.      Tidak memutarbalikan fakta
Memutarbalikan fakta adalah fitnah yang membuat keruh suasana dan menimbulkan ketidakharmonisan hubungan. Bukan sekadar itu, akan terjadi suatu waktu, orang yang baik disulap menjadi penghianat, dan penghianat dipoles sedemikian rupa menjadi pahlawan. Selain itu, hubungan dengan kerabat semakin renggang dan komunikasi dengan tetangga tidak beres.
b.     Tidak berdusta
Dusta berarti memanipulasi informasi sehingga pesan tidak sampai sebagaimana mestinya. Dusta akan mengakibatkan informasi yang masuk kepada seseorang cacat. Akibat dari informasi yang keliru adalah persepsi yang tidak benar. Dari persepsi yang tidak benar akan membuat sikap seseorang terhadap sesuatu atau seseorang menjadi tidak benar.

4.     Prinsip Kebersihan
Islam sangat menekankan prinsip kebersihan dalam segala hal, termasuk dalam menyampaikan pesan. Pesan yang baik akan mendatangkan kenyamanan psikologis bagi yang menerimanya, sedangkan pesan-pesan sarkatis, jorok, berdarah-darah, pertengkaran, perselingkuhan, adu domba, gossip, umpatan, dan sejenisnnya akan berdampak pada keruhnya hati.
Prinsip kebersihan sangat kental dalam Al-Qur’an. Ketika mengungkapkan hubungan tentang suami istri, Al-Qur’an menggambarkannya dengan Bahasa indah, santun, dan penuh makna.
Seseorang yang mengungkapkan kata-kata yang baik akan membuat hatinya tenang. Itulah rahasia dari perintah Allah yang menganjurkan kita banyak mengucapkan zikir.
Ketenangan tersebut tidak hanya buat diri komunikator, tetapi juga berdampak baik kepada komunikan. Rasulullah mengajarkan tentang pentingnya membangun optimism orang yang sedang terbaring sakit dengan kata-kata yang memberikan semangat hidup.

5.     Berkata Positif
Pesan positif sangat berpengaruh bagi kebahagiaan seseorang dalam kondisi apa pun dia berada. Seorang komunikator yang sering mengirim pesan positif kepada komunikan akan menyimpan modal yang banyak untuk berbuat yang positif.

Motivasi adalah Pesan Positif
Menyampaikan pesan dengan nada optimis adalah langkah awal menuju kemenangan. Optimism yang dibangun oleh seseorang menyebabkannya bergairah untuk menggapainya. Nabi Muhammad selalu mendidik sahabatnya dengan Bahasa optimis.
Optimism juga adalah langkah awal melangkah menuju surge. Rasulullah mengatakan bahwa kalau seseorang berdoa meminta surge, jangan meminta surge yang sekadarnya, tapi mintalah surga yang paling mewah, yaitu Firdaus.
Dengan meminta Firdaus kita termotivasi untuk lebih bekerja keras agar usaha yang kita lakukan dianggap pantas untuk mewujudkan apa yang kita minta dan cita-citakan.

6.     Prinsip Paket (Hati, Lisan, dan Perbuatan)
Manusia adalah makhluk yag diciptakan Allah dalam satu paket lengkap. Ada unsur jiwa dan ada unsur raga. Gerak raga dalam konsep Islam dipengaruhi secara kuat oleh hati atau jiwa. Artinya, lisan akan berbicara yang baik manakala hatinya baik, dan lisan tidak akan mampu berbicara dengan baik dan lancer tanpa kendali dari jiwanya, yang diucapkannya akan terasa hambar.
Orang yang sedang sedih biasanya tidak tahan memendam kesedihannya. Biasanya kesedihan itu dia ungkapkan kepada orang yang dia anggap bisa berbagi. Dalam waktu bersamaan, kesedihan di hati itu diikuti oleh muka yang muram dan air mata yang meleleh. Inilah yang disebut paket.
Konsistensi antara hati, kata dan perbuatan adalah ciri manusia sukses. Allah tidak menyukai inkonsistensi. Tidak hanya Allah, manusia secara umum juga memandang bahwa inkonsistensi adalah cacat yang membuat nilai seseorang menjadi berkurang.
Inkonsistensi adalah ciri kemunafikan. Ciri utama kemunafikan ada empat:
-        Tidak amanah, yaitu ketidaksesuian antara sumpah yang diucapkan dengan realisasi lapangan.
-     Suka berbohong, tidak sesuai antara isi yang terkandung di dalam hati dengan apa yang diucapkan oleh lisan.
-        Ingkar janji, yaitu ketidaksesuaian antara janji yang diucapkan dengan realitas di lapangan.
-       Tidak sportif, ketika terjadi perselisihan berusaha untuk mendzalimi pihak yang tidak sepakat dengan sikapnya.
Jika keempat ciri inkonsistensi ini ada pada diri seseorang, maka dia mendapat gelar munafik tulen. Rasulullah SAW bersabda:
Empat perkara, jika berkumpul pada diri seseorang, dia akan menjadi munafik tulen. Apabila melekat padanya satu sifat, maka ciri kemunafikan melekat pada dirinya sampai dia meninggalkannya, apabila diberi amanah dia berkhianat, apabila dia berbiicara dia berbohong, apabila berjanji dia ingkar, dan apabila berselisih dia semena-mena.

7.     Prinsip Dua Telinga Satu Mulut
Menceritakan kembali semua yang didengar adalah tanda kecerobohan seseorang. Tidak semua informasi yang disampai kepada seseorang dipahami secara benar, atau dipahami secara benar tetapi beritanya tidak benar, atau beritanya benar tetapi tidak layak dikonsumsi oleh public. Menceritakan kembali semua yang didengar akan berisiko memiliki tingkat kesalahan yang banyak. Di dalam istilah agama disebut dengan dosa (itsm).
Isyarat agar kita berhati-hati dalam berbicara dan banyak mendengar adalah pada struktur fisik kita yag diciptakan dengan dua telingan dan satu mulut. Setelah informasi yang ditangkap oleh telinga, informasi tersebut disaring oleh perangkat akal dan sebelum dikeluarkan oleh lisan melalui mulut, lisan kita dikawal oleh gigi-gigi kita yang jumlahnya 32.
Orang yang cerdas adalah orang yang mampu memilah-milah informasi dan hanya mengambil yang terbaik dari informasi yang diterima.

8.     Prinsip Pengawasan
Prinsip pengawasan muncul dari kepercayaan mukmin yang meyakini bahwa Allah Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Maha Mengetahui. Selain itu, mereka juga meyakini bahwa setiap kata yang diucapkan akan dicatat oleh malaikat pencatat.
Prinsip pengawasan ini akan membuat orang selalu merasa diperhatikan dan dipantau. Orangn yang selalu merasa dipantau biasanya lebih berhati-hati dalam mengeluarkan statemen.

9.     Prinsip Selektivitas dan Validitas
Berbicara dengan data dan informasi akurat adalah salah satu ciri pribadi berkualitas. Selain menambah kredibilitas, informasi yang akurat menghindarkan kita jatuh kepada kesalahan yang berujung kepada penyesalan. Allah berfirman QS. Al-Hujurat (49): 6:
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan itu
Prinsip selektivitas dan validitas dalam komunikasi Islam bukan hanya bertujuan untuk memberikan kepuasan bagi komunikan di dunia ini, tetapi tujuan utama mereka adalah agar bisa mempertanggungjawabkan apa yang mereka kemukakan pada saat diminta pertanggungjawabannya di akhirat.

10.  Prinsip Saling Memengaruhi
Komunikasi antarmanusia merupakan aktivitas menyampaikan dan menerima pesan dari dan kepada orang lain. Saat berlangsung komunikasi, proses pengaruh memengaruhi terjadi. Di samping itu, komunikasi juga bertujuan untuk saling mengenal, berhubungan, bermain, saling membantu, berbagi informasi, mengembangkan gagasan, memecahkan masalah, meningkatkan produktivitas, membangkitkan semangat kerja, meyakinkan, menghibur, mengukuhkan status, membius dan menciptakan rasa persatuan.
Karena muara semua tujuan komunikasi adalah saling memengaruhi, maka membangun komunikasi yang bertujuan untuk menciptakan suasana yang sehat adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Islam. Pengaruh pesan tersebut tidak hanya sesaat, tetapi kadang-kadang kekal sepanjang hidup komunikan.
Di antara bentuk pengaruh strategi komunikasi adalah:
a.      Dapat Mengubah Pendapat Orang Lain
Mengubah pandangan orang lain bukanlah pekerjaan yang mudah, tetapi dengan terjadinya proses tukar-menukar pendapat, hal tersebut akan dilakukan. Di antara kekuatan bahasa atau pesan itu adalah kemampuannya ‘membius’ lawan bicara.
Jika pesan yang disampaikan membuat orang tertarik menerima pesan yang keliru, maka dia menjadi tercela.
Tetapi, jika dia mampu menarik perhatian orang dengan tujuan menunjukkan jalan hidayah dan orang mendapatkan hidayah lewat perantaranya, maka perbuatan tersebut sangat terpuji.
Agar pesan yang dikirim memiliki pengaruh kuat, sebaiknya diungkapkan dengan fasih, teratur, memiliki jeda, dan diulang-ulang. Dan, andaikan seseorang menghendaki pesan itu menembus relung hati, maka saat menyampaikannya dia direkomendasikan untuk memiliki kelapangan hati.
b.     Menjadi Faktor yang Menentukan Baik Buruknya Manusia
Saat berinteraksi manusia hanya dihadapkan pada dua pilihan, memengaruhi atau dipengaruhi. Untuk menghindari pengaruh negatif, sebaiknya kita tiak bermesraan dengan orang-orang yang dapat merusak perilaku kita. Rasulullah mengingatkan kita tentang hubungan erat antara kebaikan atau kejahatan dengan hubungan komunikasi yang kita bangun.

11.  Prinsip Keseimbangan Berita (Keadilan)
Informasi yang seimbang akan membuat keputusan menjadi akurat. Prinsip perimbangan dalam menyerap informasi sebelum memberikan sikap adalah keharusan. Dengan prinsip ini, informasi yang kita terima akan lebih akurat, karena pihak yang sedang berselisih kadang-kadang memberikan informasi secara emosional dan kadang-kadang berlebihan.
Dalam menulis berita dikenal juga suatu istilah cover both side yang artinya perlakuan adil terhadap semua pihak yang menjadi objek berita atau disebut juga dengan pemberitaan yang berimbang. Kita harus menampilkan semua fakta dan sudut pandang yang relevan dari masalah yang diberitakan. Kita harus bersifat netral serta tidak memihak.

12.  Prinsip Privasi
Setiap orang memiliki ruang privasi yang tidak boleh diungkap di pentas public, begitu juga dengan organisasi, lembaga, dam seterusnya. Membocorkan rahasia sama dengan menelanjangi orang, organisasi, dan lembaga dan membuat mereka malu. Allah melarang orang-orang beriman untuk mencari-cari informasi tentang masalah yang masuk dalam ruang privasi.
Di antara indicator sebuah informasi tidak untuk di konsumsi public adalah bahasa tubuh dari orang yang menyampaikan pesan. Jika dia tidak mau menyampaikannya di depan forum, kemudian jika dia menyampaikan dia terlihat menoleh ke kanan dan ke kiri.
Di antara masalah yang termasuk dalam ruang privasi adalah masalah hubungan suami istri. Rahasia yang terjadi di kamar tidur tidak boleh dibocorkan oleh siapapun, meskipun yang menceritakan itu adalah suami atau istri.
Di antara masalah yang tidak boleh dibuka di depan umum adalah masalah keretakan rumah tangga. Islam mengarahkan kaum muslimin agar menyelesaikan masalah yang terjadi dengan melibatkan pihak yang sangat terbatas.
Melanggar masalah privasi seperti ini di dalam Islam masuk dalam status pelanggaran hak-hak asasi manusia, yaitu melakukan pencemaran nama baik.


Judul Buku                 : Komunikasi Islam
Penulis                       : Dr. Harjani Hefni, Lc, MA
Penerbit                      : Prenadamedia Group
                                      Cetakan I, September 2015
Penulis Resume          : Fitri Lestari
                                      Mahasiswa IAIN Pontianak
                                      Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah
                                      Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam
                                      Semester II, Kelas B

No comments:

Post a Comment