Monday, May 29, 2017

Tugas Resume “Ilmu Komunikasi Islam”
BAB V
FUNGSI-FUNGSI KOMUNIKASI ISLAM
A.    Fungsi-Fungsi Komunikasi
1.     Fungsi Informasi
Informasi adalah kehidupan, karena sejak lahir seluruh perangkat untuk menyerap informasi seperti mata, telinga dan hatisebagai perangkat utama kehidupan sudah terpasang dan siap difungsikan. Selain alat penangkap informasi, Allah juga sudah menyiapkan perangkat untuk menyampaikan kembali informasi yang telah ditangkap kepada orang lain.
Di antara ayat yang menyatakan hal ini ialah firman Allah QS. As-Sajdah (32): 7-9
“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan kedalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamnu pendengaran, penglihatan, dan hati, (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”
Tidak lama setelah Adam diciptakan dengan dibekali tiga perangkat tersebut, Allah mengajarkan kepada Adam semua nama benda sebagai bekal untuk menjadi khalifah di muka bumi. Dan, ketika Adam sudah memiliki ilmu tentang nama-nama benda yang ada, Allah perintahkan kepadanya untuk menyampaikan dan menginformasikannya kepada para malaikat. Dengan kelebihan ilmu yang dianugerahkan kepadanya, Allah memerintahkan kepada para malaikat untuk bersujud kepada Adam.
Selanjutnya Allah menciptkan Hawwa sebagai pasangan hidup dan teman berbagi rasa dan informasi. Hadirnya Hawwa membawa kedamaian bagi Adam ‘alaihissalam, dan dari keduanya lahir keturunan laki-laki dan perempuan yang banyak.
Kisah manusia pertama di muka bumi di atas mengajarkan kepada kita bahwa manusia sejak lahir memiliki sifat penasaran ingin mengetahui sesuatu yang ada di sekitarnya. Rasa penasaran dan haus ingin mengetahui sesuatu merupakan factor utama yang menyebabkan komunikasi berlangsung. Rasa haus ingin mengetahui sesuatu itulah yang menyebabkan anak kecil selalu bertanya dengan orang tuanya tentang objek yang ada di sekitarnya. Untuk memenuhi kebutuhan ingin tahu tentang alam di sekitarnya itu, Allah ajarkan kepada Adam seluruh nama dan istilah di ala mini.
Setelah memiliki ilmu dan pengalaman, manusia biasanya tidak betah memendam ilmu dan pengalaman di dalam dirinya sendiri. Biasanya muncul keinginan untuk berbagi ilmu dan pengalaman dengan teman-temannya. Kebutuhan untuk berbagi ilmu dan pengalaman itu Allah salurkan lewat perintah-Nya kepada Adam untuk mengajarkan ilmu yang telah dia miliki kepada para malaikat.
Selain makhluk yang haus ilmu, manusia diciptakan sebagai makhluk yang memiliki perasaan. Manusia juga tidak mampu untuk hidup dengan memendam perassan. Karenanya, Allah ciptakan untuk Adam pasangan hidup yang bernama Hawwa. Keberadaan teman apalagi pasangan hidup membuat Adam bebas dan lepas menumpahkan perasaannya.
Kisah di atas juga mengajarkan bahwa orang yang akan menjadi pemimpin harus memiliki banyak informasi, dan orang yang unggul dalam informasi akan dimuliakan. Karena Adam memiliki informasi yang tidak dimiliki oleh malaikat, maka Allah memerintahkan malaikat untuk sujud kepada Adam.
Ketika komunikasi terjadi, maka tukar menukar informasi tidak bias dihindarkan. Informasi adalah kunci utama terjadinya perubahan sikap dan perilaku pada manusia. Seseorang yang memiliki informasi kurang baik tentang si fulan secara umum akan bersikap negatif tentang orang tersebut. Tetapi jika informasi yang masuk tentang si fulan tersebut positif, maka kemungkinan besar sikap orang terhadap si fulan itu juga akan baik.
Prinsip dasar agama Islam dalam menyebarkan informasi adalah menutup rapat informasi yang tidak baik yang terkait dengan orang lain, terutama yang terkait dengan masalah pribadi. Islam melarang namimah atau mengungkap kejelekan orang lain, dan mengkategorikan perbuatan ini sebagai salah satu dosa besar. Islam melarang orang yang bermimpi jahat untuk menyampaikan mimpinya kepada orang lain. Bahkan orang yang bangga menyampaikan informasi tentang kejahatan yang dia lakukan termasuk orang yang tidak di ampuni dosanya oleh Allah.
Dalam pandangan Islam, informasi adalah pintu awal seseorang memiliki karakter tertentu, baik atau buruk. Ibnu Qayyim mengatakan bahwa karakter tidak terbentuk otomatis, tetapi melalui tahapan-tahapan. Pembentukan karakter dimulai dengan langkah mengumpulkan informasi tentang makna pesan (khawathir dan afkar), lalu terbentuk persepsi (tashawwur), lalu muncul keinginan (iradah) dan akhirnya melahirkan perbuatan (fi’l). perbuatan yang dilakukan secara berulang akan melahirkan karakter (‘adat). Baik tidaknya suatu karakter tergantung dari input informasi yang masuk.
Mengingat pentingnya informasi dalam kehidupan manusia, maka Islam melarang keras umatnya untuk berdusta, karena dusta akan menciptakan fasad al-tashawwur (rusaknya persepsi) seseorang terhadap orang lain atau terhadap sesuatu dan menyeret pelakunya untuk masuk neraka.

2.     Fungsi Meyakinkan
Fungsi meyakinkan artinya membuat ide, pendapat, dan gagasan yang kita miliki bisa diterima oleh orang lain dengan senang hati dan tidak terpaksa. Bahkan bukan sekadar menerima dengan sukarela, mereka yang merasa mantap dengan penjelasan tersebut bisa menjadi pendukung ide itu.
Fungsi meyakinkan dalam komunikasi Islam bisa dicapai di antaranya dengan metode hiwar (dialog) dan jidal (debat). Hiwar dilakukan dengan suasana santai, saling mengemukakan pendapat dengan tenang, mungkin didalamnya juga terjadi tarik ulur, dan akhirnya berujung kepada suatu kesepakatan mendukung ide bersama atau salah satu ide yang baik. Adapun jidal biasanya lebih seru, kadang-kadang sampai panas, dan masing-masing ngotot dengan pendapatnya. Orang yang menyampaikan ide cemerlang dengan alasan-alasan dan logika yang kuat biasanya akan menjadi pemenang dan idenya akan dijadikan rujukan.

3.     Fungsi Mengingatkan
Lupa adalah sifat yang tidak bisa berpisah dari manusia. Sifat ini sudah ada sejak adanya bapak manusia pertama, Adam a.s. Ibnu Mandzur dalam lisan al-Arab mengatakan bahwa di antara rahasia penamaan manusia dengan istilah insan karena manusia memiliki sifat pelupa. Pendapat Ibnu Mandzur itu disandarkan kepada pemahaman Ibnu Abbas tentang surah Thaha ayat 115 yang mengisahkan tentang sebab Adam melanggar perintah Allah. Adam yang diperintahkan oleh Allah untuk  tidak memakan buah pohon al-khuldi ternyata memakan buah terlarang itu karena lupa.
Di antara penyebab lupa adalah:
1.   Tidak kuatnya informasi menempel di otak. Informasi yang tidak kuat menempel di otak sangat mudah hilang dari ingatan kita. Informasi di otak ibarat kertas yang ditempel di dinding. Jika kita tidak kuat menempelkan, maka kertas akan mudah jatuh.
2.    Informasi yang terlalu banyak dan tidak disimpan dengan rapi ditambah lagi karena suntuk dan terlalu banyak pekerjaan yang harus dituntaskan.
3.     Informasi tidak disusun berdasarkan kronologinya. Otak kita ibarat computer, mampu mencari data yang begitu banyak dalam waktu singkat. Tetapi jika data tersebut tidak diurutkan dengan baik, kita akan kesulitan untuk menemukannya di mana data itu kita simpan.
4.     Tidak mengikat informasi dengan tulisan. Sebenarnya otak bisa menyimpan data cukup lama. Kita mungkin masih banyak mengingat masa kecil kita, saat kitra di TK, SD, dan seterusnya. Tapi mungkin juga sebagian sudah lupa siapa saja teman-teman kita saat di TK dan SD. Tapi kalau hal itu diikat dengan tulisan, maka kita akan lebih mudah untuk mengingat kembali kenangan masa lalu tersebut.
5.  Di antara factor yang membuat orang menjadi mudah lupa adalah factor gizi buruk dan kesehatan yang tidak baik.
6.     Suasana tidak nyaman dan tidak aman juga membantu orang untuk cepat lupa.
7.     Tidak ada waktu istirahat dan kerja terus-menerus.
8.     Banyaknya benturan baik dari dalam maupun luar diri.
9.     Tergesa-gesa.
10.  Menganggap remeh suatu masalah.
11.  Factor keturunan.
12.  Factor usia.
13.  Factor godaan setan.
Di antara metode untuk memperkuat ingatan di antaranya:
1.   Menghubungkan dengan objek tertentu. Anggap ketinggian Ka’bah 15 m. agar kita selalu ingat dengan ketinggian itu, hubungkan Ka’bah dengan bulan purnama di malam ke-15 yang menerangi Ka’bah.
2.     Mencatat dan menulis informasi. Kita yang biasa menulis janji yang kita buat akan lebih ingat dibandingkan hanya diingat saja, meskipun catatan kita tidak kita buka.
3.   Memperhatikan makanan yang sehat. Makanan siap saji dan berbagai model makanan yang tidak di masak dengan baik, tidak baik untuk tubuh dan berperan mengurangi asupan Omega 3 ke dalam tubuh. Padahal Omega 3 ini sangat berperan dalam memperkuat daya ingat.
4.     Menjaga kesehatan tubuh.
5.     Sering mengulang-ngulang materi dan pekerjaan yang kita perlukan.
6.     Tidak terlalu banyak menanggung beban tanggung jawab.
7.     Hidup yang tertata.
8.     Mencari suasana yang nyaman, aman, dan tenang.
9.     Tidak terburu-buru dalam melakukan pekerjaan.
10.  Selalu membaca dan melakukan kajian.
11.  Menghindari makanan-makanan yang merusak tubuh.
12.  Selalu membaca dan menghafal Al-Qur’an, doa dan hal-hal yang memuaskan suasana batin.

4.     Fungsi Memotivasi
Kalau Anda punya handphone, pasti handphone Anda tidak betah berpisah lama dengan charger. Tanpa charger, dalam waktu satu, dua, atau tiga hari handphone Anda akan low bat dan setelah itu mati dan tidak berfungsi.
Manusia dalam hidupnya memerlukan charger karena semangat hidup manusia secara umum tidak stabil. Charger itu disebut dengan motivasi.
Mengucapkan secara berulang setiap pagi dan petang hal-hal yang hendak kita hindari atau hal-hal yang seharusnya kita lakukan adalah di antara metode komunikasi antara manusia dengan Tuhannya dan dengan dirinya sendiri untuk membuang penyakit-penyakit mental yang ada di dalam dirinya yang membuatnya terbelenggu dan menumbuhkan nilai-nilai positif sehingga dia bisa terbang bebas merealisasikan mimpi-mimpi indahnya.
Metode memotivasi diri sendiri adalah metode yang paling ideal. Metode ini praktis, murah, dan mudah, tetapi hasilnya dahsyat. Selain metode memotivasi diri sendiri, manusia juga bisa termotivasi jika mendapatkan suntikan motivasi darim orang lain.
Komunikasi adalah salah satu cara untuk menyuntikkan motivasi kepada orang lain. Metode yang paling cocok untuk menyuntikkan motivasi dalam komunikasi Islam adalah metode tabligh dan tabsyir.

5.     Fungsi Sosialisasi
Banyak teori yang menjelaskan tentang teori kebutuhan, dan di antara yang paling terkenal adalah teori Maslow yang dalam bukunya Motivation and Personality menjelaskan lima jenjang kebutuhan pokok manusia sebagai berikut:
1.     Kebutuhan fisiologi dasar (physiological needs). Manifestasi kebutuhan ini tampak pada tiga hal yaitu sandang, pangan, dan papan. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan primer untuk memenuhi kebutuhan psikologis dan biologis.
2.    Kebutuhan rasa aman (safety needs), manifestasi kebutuhan ini antara lain adalah kebutuhan akan keamanan jiwa, dimana manusia berada, kebutuhan keamanan harta, perlakuan yang adil, pension, dan jaminan hari tua.
3.    Kebutuhan social untuk dicintai dan disayangi (social needs). Manifestasi kebutuhan ini antara lain tampak pada kebutuhan akan perasaan yang diterima oleh orang lain (sense of belonging), kebutuhan untuk maju dan tidak gagal (sense of achievement), kekuatan ikut serta (sense of participation).
4.   Kebutuhan akan penghargaan/prestise (esteem needs), semakin tinggi status, semakin tinggi pula prestisenya. Prestise dan status ini dimanifestasikan dalam banyak hal, misalnya tongkat komando, mobil mercy, kamar kerja yang full AC, dan lain-lain.
5.  Kebutuhan aktualisasi diri (self-actualization), kebutuhan ini manifestasinya tampak pada keinginan mengembangkan kapasitas mental dan kapasitas kerja, melalui on the job training, of the job training, seminar, konferensi, pendidikan akademis, dan lain-lain.

6.     Fungsi Bimbingan
Di antara fungsi komunikai adalah untuk membimbing manusia. Tidak semua kita mampu membaca kemampuan kita sendiri, dan tidak semua kita mampu menyelesaikan masalah kita sendiri, padahal hidup tidak pernah sepi dari masalah. Di sinilah manusia memerlukan orang lain untuk membimbingnya mencari solusi atau mengarahkannya ketempat yang tepat. Dalam istilah komunikasi Islam, fungsi bimbingan ini disebut dengan irsyad.
Ada empat focus utama aktivitas komuniki dalam membimbing seseorang: pertama, membimbing orang untuk melakukan perbuatan yang baik dan menangkal mereka untuk melakukan perbuatan negatif. Kedua, memperbaiki atau memulihkan kondisi mereka yang sudah rusak. Ketiga, mengarahkan orang untuk menemukan potensi yang mereka miliki. Dan keempat, mengembangkan potensi manusia agar lebih maksimal.
Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, tetapi berpotensi menjadi rusak karena dalam diri manusia terdapat sifat fujur. Bimbingan akan berfungsi sebagai pencegahan jika dilakukan sejak dini sebelum seorang anak terkontaminasi dengan lingkungannya.
Jika seseorang sudah terjerat dalam gurita permasalahan dan dia kesulitan untuk keluar dari jerat tersebut, maka bimbingan lebih difokuskan untuk mendengar dan mendalami permasalahan yang sedang dihadapi oleh orang yang diminta bimbingan. Setelah mendapatkan gambaran yang utuh tentang permasalahan, kerja pembimbing berikutnya adalah memperbaiki atau memulihkan kondisi kliennya.
Secara umum, bimbingan diberikan dalam bentuk komunikasi antarpersonal atau komunikasi kelompok kecil. Komunikasi antarpersonal menjadi pilihan utama dalam bimbingan karena setiap orang memiliki permasalahan yang berbeda dengan orang lain. Bimbingan bisa dilakukan dalam kelompook kecil jika orang-orang yang berkumpul dalam kelompok tersebut adalah orang-orang yang memiliki permasalahan yang relative sama.
Bimbingan bisa dilakukan dengan melakukan percakapan pribadi, dialog langsung, dan tatap muka dengan orang yang dibimbing, bisa dengan melakukan home visit untuk mengetahui kondisi rumah dan lingkungan yang memengaruhinya, atau berkunjung ketempat kerjanya dan melakukan percakapan individual sekaligus mengamati kerja klien di lingkungannya.

7.     Fungsi Kepuasan Spiritual
Manusia terbentuk dari dua unsur yang keduanya memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi. Tubuh memerlukan makanan, pakaian, tempat tinggal, dan segala hal yang mendukung keselamatannya. Adapun kebutuhan roh adalah berkomunikasi dengan Allah, Sang Penciptanya, hati menjadi tenang.
Al-Qur’an menyatakan bahwa sumber ketenangan hati adalah zikir. Allah berfirman QS. Ar-Rad (13): 28:
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram”.
Kata “hanya” di dalam ayat di atas mengandung makna bahwa ketenteraman hati tidak akan ditemukan pad acara yang lain selain zikir, tentunya zikir dalam arti yang luas.
Di antara metode memuaskan spiritual adalah dengan memberikan mau’idzah dan nasihat kepada mereka.

8.     Fungsi Hiburan
Dalam hidup ini, kita hanya akan berhadapan dengan dua kemungkinan: bahagia atau sedih. Tidak ada orang yang seumur hidupnya hanya merasakan kebahagiaan. Suatu saat dia akan mengalami masa-masa berat dalam hidupnya. Tetapi tidak ada juga orang yang selama hidup hanya merasakan penderitaan, pasti ada waktu-waktu dia bisa tertawa dan mengalami masa-masa bahagia.
Ketika mendapatkan kebahagiaan, Islam mengajarkan kepada penganutnya agar mengucapkan syukur atas nikmat yang telah di dapat. Dan kepada saudaranya yang mengetahui temannya mendapatkan nikmat dianjurkan untuk menambah rasa bahagia saudaranya dengan mengucapkan selamat kepadanya.
Adapun orang yang diberi ucapan selamat membalas dengan mengucapkan:
Semoga Allah juga memberkahimu dan melimpahkan kebahagiaan untukmu. Semoga Allah membalasmu dengan sebaik-baik balasan, mengaruniakan kepadamu sepertinya dan melipatgandakan pahalamu.
Selain rasa bahagia, kadang-kadang kita juga diselimuti oleh rasa takut, tseperti takut kehilangan orang yang dicintai, takut dengan ketidakjelasan masa depan, takut kehilangan pekerjaan, takut tidak dihargai, takut kehilangan harta, dan seterusnya. Semua kita pasti merasa lelah, kadang harus berhadapan dengan kesulitan, diuji dengan berbagai kasus, bahkan tidak jarang harus menderita.
Dalam kondisi seperti ini, hati kita sangat perlu kepada hiburan. Hati yang terhibur akan membuat rasa takut menjadi hilang., lelah akan hilang, derita terobati, dan kondisi kita menjadi fresh kembali.

Judul Buku                : Komunikasi Islam
Penulis                       : Dr. Harjani Hefni, Lc, MA
Penerbit                     : Prenadamedia Group
                                    Cetakan I, September 2015
Penulis Resume        : Fitri Lestari
                                    Mahasiswa IAIN Pontianak
                                    Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah
                                    Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam
                                    Semester II, Kelas B


Tugas Resume “Ilmu Komunikasi Islam”
BAB II
SUMBER ILMU KOMUNIKASI ISLAM
A.    Sumber-sumber Komunikasi Islam
1.     Al-Qur’an
Definisi Al-Qur’an
Al-Qur’an ditinjau dari segi etimologis merupakan bentuk mashdar dari kata qara’a-yaqra’u-qira’atan-wa qur’anan. Kata qara’a berarti menghimpun dan menyatukan. Jadi menurut bahasa Al-Qur’an adalah himpunan huruf-huruf dan kata-kata yang menjadi satu ayat, himpunan ayat-ayat menjadi surat, himpunan surat menjadi mushaf Al-Qur’an. Disamping bermakna menghimpun, Al-Qur’an dengan akar kata qara’a,bermakna tilawah atau membaca. Jika dua makna bahasa ini dipadukan, maka Al-Qur’an artinya adalah himpunan huruf-huruf dan kata-kata yang dapat dibaca.
Secara terminologi Al-Qur’an didefinisikan, “Firman Allah yang menjadi mukjizat abadi pada Rasulullah yang tidak mungkin bisa ditandingi oleh manusia, diturunkan kepada Rasulullah SAW yang tertulis dalam mushaf, diturunkan ke generasi berikutnya secara mutawatir, ketika dibaca bernilai ibadah dan berpahala besar”.
Definisi di atas mengandung lima makna penting:
a.   Al-Qur’an adalah firman Allah SWT (QS. An-Najm (53): 4) Yang Maha Mulia dan Maha Agung. Karena firman Allah yang mulia, maka menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber rujukan utama komunikasi Islam akan membuat ilmu ini menjadi ilmu yang mulia.
b.  Al-Qur’an adalah mukjizat, tidak ada kata dan bacaan yang mampu menandinginya. Menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber ilmu komunikasi Islam akan membuat teori-teori ilmu ini menjadi kukuh.
c.    Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu ke dalam hatinya melalui malaikat Jibril a.s (QS. Asy-Syu’ara (26): 192-194). Allah memilih hati Nabi Muhammad SAW karena dianggap yang paling layak untuk ditempati Al-Qur’an yang suci.
d.    Al-Qur’an disampaikan secara mutawatir. Al-Qur’an dihafal dan ditulis oleh banyak sahabat sehingga mustahil terjadinya persekongkolan adanya penambahan atau pengurangan dalam teksnya. Lalu, secara turun temurun Al-Quran itu diajarkan kepada generasi berikutnya, dari orang banyak ke orang bannyak.
e.  Membacanya Al-Qur’an bernilai ibadah, bahkan setiap huruf diganjar oleh Allah dengan sepuluh kebaikan.

Fungsi Al-Qur’an
1)   Al-Qur’an sebagai Huda (petunjuk).
Fungsi Al-Quran sebagai petunjuk di sebutkan banyak sekali dalam Al-Quran. Allah berfirman:
“sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar yang gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”. (QS. Al-Israa’ (17): 9)
Al-Quran seolah-olah GPS yang berfungsi memandu manusia dalam perjalanan mengarungi kehidupan agar sampai ketujuan dengan selamat.
Di antara aktivitas yang memerlukan panduan Al-Quran adalah komunikasi, karena setiap manusia sangat tergantung kepadanya dalam menjalani kehidupan ini, bahkan sebelum mereka lahir di bumi.
2)   Al-Qur’an sebagai Furqan (pembeda).
Al-Qur’an sebagai al-furqan (pembeda) menunjukkan kepada manusia mana yang baik dan mana yang tidak baik, mana yang halal dan mana yang haram. (QS.al-Baqarah : 185).
Sifat Al-Qur’an sebagai furqan menegaskan bahwa ada hal yang menjadi ciri khas kaum Muslimin yang membedakannya dengan selain mereka. Kekhasan Islam secara umum tersebut juga termanifestasikan  dalam ajaran-ajaran yang bersifat khusus seperti ilmu komunikasi. Di antara kekhasan Islam dalam ilmu komunikasi Islam adalah: meyakini bahwa komunikasi adalah bagian dari ibadah kepada Allah, bukan sekedar untuk kepuasan diri dan menyenang kan orang lain. Seorang muslim harus meniatkan segala perbuatan baiknya untuk beribadah, karena tugas utama keberadaan manusia di muka bumi ini adalah ibadah.
Menjalankan agama yang lurus jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan. Dengan keyakinan ini seorang mukmin bersemangat untuk membangun komunikasi yang positif dan takut melakukan tindakan yang merusak. Pesan-pesan yang baik (kalimat thayyibah) yang disampaikan seseorang memiliki kekuatan menembus relung hati manusia dan bahkan membuahkan hasil yang menakjubkan.
Diantara kekhasan komunikasi islam adalah mewujudkan rasa selalu diawasi oleh malaikat saat mengucapkan kata-kata. Bahwa setiap perkataan kita diawasi dan dicatat oleh para malaikat. (QS. Qaf: 18)
3)   Al-Qur’an sebagai Syifa’(obat)
Jika iman seseorang lemah dan godaan dari luar besar, biasanya hati akan hancur lebur. Rasulullah SAW menjamin  bahwa Allah tidak menurunkan satupun penyakit di muka bumi ini kecuali menurunkan juga obatnya. Salah satu obat yang Allah persiapakan untuk manusia adalah Al-Quran. Fungsi Al-Quran sebagai obat terdapat dalam firman Allah:
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Yunus (10): 57).
Ibnu al-Qayyim (w. 751 H) mengatakan bahwa seluruh Al-Quran adalah obat, tidak ada obat yang lebih besar dan lebih luas manfaatnya daripada Al-Quran.
4)   Al-Qur’an sebagai rahmat
Bentuk kasih sayang Allah yang paling besar kepada manusia adalah diturunkannya Al-Quran. Allah berfirman:
“(Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Al-Quran”. (QS. Ar-Rahman (55): 1-2).
Komunikasi yang mampu menghubungkan apa yang kita maksud dengan apa yang ditangkap oleh orang lain adalah rahmat besar darri Allah terhadap manusia. Kita tidak dapat membayangkan bagaimana kita akan hidup dengan nyaman andaikan apa yang kita maksudkan selalu tidak sama dengan apa yang orang lain maksudkan.

Sumber dan Referensi
Rujukan utama dibidang tafsir adalah:
a.      Jami’ al-bayan fi Tafsir Al-Qur’an atau Tafsir at-Tabari disusun oleh Abu Ja’far Muhammad bin Jarir at-Tabari.
    Ma’alim at-Tanzil ditulis oleh Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud bin Muhammad al-Farra al-Baghawi.
c.      Tafsir Al-Qur’an al-Azim disusun oleh Ibnu Katsir.
d.     Al-Durr al-Mantsur fi at-Tafsir al-Ma’tsur karya al-Suyuti terdiri atas enam jilid.
e.      Mafatih al-Gaib disusun oleh Fakhruddin al-Razi
f.      Tafsir Jalalain disusun oleh Jalaludin al-Mahalli dan Jalaludin As-Suyuti.
g.    Ruh al`ma’ani fi Tafsir Al-Quran al-Azmi wa as-Sab’i al-Matsani disusun oleh Syihabuddin Mahmud al-Alusi.
h.  Al-Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa asy-Syari’ah wa al-Manhaj disusun oleh Wahbah az-Zuhaili.
i.       Al-Furqon ditulis oleh A. Hasan.
j.       Tafsir al-Azhar karya Hamka.
k.     An-Nur karya Hasbi Ash-Shiddiqqie.
l.       Tafsir Al-Misbah karya Quraish Shihab.
m.   Al-Quran dan Tafsirnya. Disusun oleh sebuah tim yang dibentuk Menteri Agama.

2.     As-Sunnah
Definisi As-Sunnah
a.     Al-Sirah au al-Thariqah, Hasanah am Sayyiah. Sirah dan Thariqah berarti jalan kehidupan atau metode, yang baik ataupun yang buruk.
b.  Al-thariqah al-mahmudah al-mustaqimah, yaitu jalan kehidupan atau metode yang lurus dan terpuji.
Dalam terminologi Muhadditsin, As-sunnah didefinisikan,” Sesuatu yang didapat dari Nabi SAW baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, dan sifat jasmani atau prilaku, serta sirah beliau sebelum atau sesudah diutus.

Fungsi Sunnah
Fungsi Sunnah adalah sebagai tafsir bagi Al-Qur’an, mengungkap rahasia yang dikandungnya, dan menjelaskan kehendak Allah SWT dalam perintah-perintah-Nya atau larangan-larangan-Nya. Al-Qur’an sangat membutuhkan Sunnah, karena tanpa sunnah banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang sulit untuk dipahami, dan tidak bisa dimengerti maksudnya, tetapi tidak demikian sebaliknya, karena walaupun tanpa Al-Qur’an, As-Sunnah sudah bisa dipahami dengan sendirinya.
3.   Kitab-kitab Para Ulama
a.      Kitab Ihya ‘Ulumuddin karya Imam Abu Hamid Al-Ghazali.
b.     Minhaj al-Qashidin Karya al-Maqdisi.
c.     Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi.
d.    Kitab ‘Afat al-Lisan fi Dhau Al-Qur’an wa As-Sunnah karya Said bin Ali bin Wafh Al-Qathani.
e.      Adab al-lisan karya Abu Anas Majid al-Nabkhi

4.     Ilmu Komunikasi
Pokok pikiran utama:
a.     Objek pengamatan yang jadi fokus perhatian dalam ilmu komunikasi adalah produksi, proses dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan lambang dalam konteks kehidupan manusia.
b.   Ilmu komunikasi bersifat ilmiah empiris (scientific) dalam arti pokok-pokok pikiran dalam ilmu komunikasi (dalam bentuk teori-teori) harus berlaku umum.
c    Ilmu komunikasi bertujuan menjelaskan fenomena sosial yang berkaitan dengan produksi, proses, dan pengaruh dari sistem tanda dan lambang.

Secara umum ilmu komunikasi adalah pengetahuan tentang peristiwa komunikasi yang diperoleh melaui suatu penelitian tentang sistem, protes, dan pengaruhnya yang dapat dilakukan secara rasional dan sistematis, serta kebenarannya dapat diuji dan digeneralisaikan

Judul Buku               : Komunikasi Islam
Penulis                      : Dr. Harjani Hefni, Lc, MA
Penerbit                     : Prenadamedia Group
                                    Cetakan I, September 2015
Penulis Resume        : Fitri Lestari
                                    Mahasiswa IAIN Pontianak
                                    Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah
                                    Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam
                                    Semester II, Kelas B